Jumat, 03 Juli 2009

saudaraku... bersiaplah menyambut datangnya KEMATIAN

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang berada di atas langitNya, yang telah menjadikan mati dan hidup sebagai satu tanda diantara tanda-tanda kekuasaanNya. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan atas Muhammad penghulu orang-orang yang berbakti, pemilik mukjizat yang nyata, demikian pula kepada keluarganya, dan juga para sahabatnya yang shidiq dan memiliki jiwa yang suci. Amma ba’du
Saudaraku, telah diriwayatkan bahwa seorang badwi berjalan mengendarai ontanya. Namun tiba-tiba ontanya tersungkur dan mati. Maka turunlah orang tersebut dan mengitari ontanya sambil terbengong lalu bertanya-tanya “mengapa kamu tak mau berdiri? mengapa kamu tak mau bangkit? anggota badanmu masih sempurna! tubuhmu masih utuh! apa yang terjadi atas dirimu? apa yang sedang menimpa dirimu? apa yang bisa membuatmu bangkit? apa yang membuatmu tersungkur jatuh? apa yang menghalangimu untuk bergerak?! kemudian ia tinggalkan ontanya sedang ia masih berfikir tentangnya.
Saudaraku..... itulah kematian...sesungguhnya ia telah menghancurkan hamba...penyebab kosongnya negara...menjadikan yatimnya anak-anak...menghinakan orang-orang sombong yang sewenang-wenang...tidak peduli usia muda...tidak peduli rakyat atau pejabat...tidak mentolelir orang yang berkasta...pedangnya senantiasa terhunus bagi manusia...tombaknya senantiasa mengarah menghunjam dada..dan panahnya tak luput dari hati yang jadi sasarannya...
Berita yang telah sampai kepada kita, namun seakan kita menutup mata.
Saudaraku..... betapa banyak kematian telah melukai hati...menimbulkan kesusahan...teramat sulit untuk digambarkan! terlampau ngeri untuk dibayangkan! tidak diketahui rahasianya oleh makhluk...tiada yang mengetahui selain Yang Maha Mengetahui segala keburukan dan kejahatan..Tabaraka wa Ta’ala Yang Maha Suci..
Saudaraku..... secawan kematian lebih pahit dari labu! tiada yang mengetahui rasanya melainkan yang telah mengalaminya! Maka kita serahkan kepada orang yang telah mengalaminya untuk bercerita.
Ketika kematian menjemput Amru bin ‘Ash Radhiyallahu ‘Anhu, putranya berkata, “wahai ayah, anda pernah berkata, “sesungguhnya aku heran terhadap seseorang yang diambang kematiannya, sedangkan akalnya masih lekat lisannyapun masih sehat namun bagaimana dia tidak mau bercerita?” Maka Amru bin ‘Ash berkata, “Wahai anakku, kematian itu terlalu sulit untuk dikatakan! akan tetapi baiklah, aku ceritakan sedikit tentangnya, demi Allah sekan-akan diatas pundakku ada gunung Radhwa dan Tihamah..seakan aku bernafas dengan lubang jarum...seakan di perutku ada duri yang runcing..dan langit seakan menghimpit bumi, sedangkan aku berada di antara keduanya...”
Saudaraku..... Alangkah terbakarnya hati ketika ia tahu betapa banyak orang yang telah meneguk secawan kematian tiap harinya! Saudaraku..... tidakkah anda berkenan untuk berdo’a bersamaku dengan hati yang tulus:
اللهم هون علينا سكرات الموت يوم تطوى صحائفنا وتنقضي أيامنا برحمتك يا راحم المستعيذين بك..وواهب المخطئين لعفوك..
“Ya Allah, ringankanlah atas kami sakaratul maut ketika Engkau menutup lembaran hidupku, ketika Engkau menyudahi hari-hariku..dengan rahmatMu wahai Yang merahmati orang-orang yang memohon perlindungan kepadaMu..dan Maha mengampuni orang-orang bersalah yang memohon ampunanMu..”
Saudaraku..... tidak inginkah jika aku ingatkan akan kelalaianmu? tidak inginkah engkau jika aku menakut-nakuti hatimu? renungkanlah peristiwa kematian yang mengerikan ini!
Umar bin Khathab Radhiyallahu ‘Anhu berkata kepada Ka’ab, “Wahai Ka’ab ceritakanlah kepada kami tentang kematian!” Beliau berkata, Sesungguhnya kematian itu bagaikan pohon berduri yang dimasukkan ke tubuh Anak Adam. Maka bayangkanlah jika setiap duri tersebut bersemayam di dalam daging, kemudian seorang laki-laki yang kuat mencabut duri-duri tersebut dengan hebatnya, maka menjadi rusaklah apa-apa yang di dalamnya.”
Saudaraku..... demi Allah, betapa ngerinya kematian ini! betapa menakutkan kematian ini! Telah diriwayatkan pula bahwa kematian itu lebih menyakitkan daripada tusukan pedang, lebih pedih dari irisan gergaji, lebih perih dari sayatan gunting!
وَجَآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَاكُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ {19}
“Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya.Itulah yang kamu selalu lari dari padanya.” (QS Qaaf 19)
Benar.. kematian ada sakaratnya! alangkah menakutkan! ketika nyawa ditenggorokan! tatkala mata terbelalak! di saat hati dilanda rasa gentar! sedangkan lisanpun tersendat-sendat! demi Allah..betapa sedihnya saat itu! betapa jiwa tersiksa dengan musibah ketika itu!
Akhi fiillah, bukankah akan menambah takut hati kita tatkala Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memenuhi undangan Rabbnya, beliau berdo’a kepada Allah Ta’ala agar meringankan sakaratul maut?! Inilah Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anhuh bercerita kepada kita. “Di hadapan beliau ada bejana yang berisi air, kemudian beliau masukkan tangannya ke dalamnya lalu membasuhkan kedua tanganya ke wajahnya seraya bersabda: “la ilaha illallahu..sesungguhnya kematian itu ada sakaratnya.” (HR Bukhari)
Dalam riwayat Tirmidzi beliau berdo’a :
اللهم أعني على غمرات الموت وسكرات الموت
“Ya Allah tolonglah aku untuk menghadapi penderitaan tatkala mati dan sakaratnya.”
Saudaraku..... alangkah pedihnya sakaratul maut! alangkah berat penderitannya! maka adakah harapan setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang dapat meneguk segarnya secawan kematian?
Bayangkanlah dirimu wahai orang yang lalai, andai sakaratul maut mendatangimu, kegundahanpun mulai menyelimuti kalbumu! sementara disampingmu ada yang berkata,”fulan telah berwasiat, hartanya belum dibagi!” sedang yang lain berkata tentang dirimu,”si fulan teluh kelu lidahnya! dia sudah tidak lagi mengenali tentangganya! tidak bisa berkata untuk saudaranya! sepertinya aku melihatmu masih mendengar, namun tak kuasa untuk menjawabnya! Kemudian menangislah anak-anakmu bagaikan seorang tawanan yang merengek-rengek berkata,”kasihanilah aku wahai ayah! siapa yang akan mengasuhku kelak?! siapa lagi yang akan mencukupi kebutuhanku?!” sedangkan engkau, demi Allah akan mendengar perkataannya, namun tak kuasa untuk menjawabnya!
Saudaraku..... di tengah suasana seperti hari ini, hendaklah engkau menyiapkan bekal...dalam keadaan seperti ini, hendaklah kau tinggalkan pembangkangan dan kerusakan..dan hendaklah engkau bertakwa kepada Rabbul ‘ibad..
Suatu ketika Hasan Al-Bashri Rahimahullah menjenguk orang yang sakit. Beliau mendapatkanya dalam keadan sakaratul maut! beliau memperhatikan kesusahan dan penderitaan yang dialaminya lalu pulang kepada keluarganya dengan wajah yang lain dari wajah tatkala keluar dari rumahnya. Mereka berkata,”Saatnya makan..semoga Allah merahmati anda!” Beliau menjawab “Wahai keluargaku silahkan kalian makan dan minum, demi Allah aku telah melihat sesuatu yang menakutkan, aku akan selalu beramal untukNya hingga hari bertemu denganNya!
Saudaraku..... mereka itulah orang-orang yang shalih.. segera berbekal untuk perjalanan panjang. Sedangkan orang-orang lalai mereka teledor! hingga kematian menyergap mereka! lalu mereka akan mengenyam banyaknya kerugian..panjangnya penderitaan..duhai alangkah gembiranya orang yang mengakhiri hidupnya dengan kebaikan tatkala disambut oleh para malaikat:
الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلاَمٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ {32}
“(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka):"Salaamun'alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan". (QS An Nahl 32)
Dan firman Allah:
تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهُ سَلاَمٌ وَأَعَدَّ لَهُمْ أَجْرًا كَرِيمًا {44}
“Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mu'min itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah:"Salam"; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.” (QS Al Ahzab 44)
Al Barra’ bin ‘Azib Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Maka malaikat maut akan mengucapkan salam kepada seorang mukmin tatkala hendak mencabut ruhnya, dia tidak akan mencabut ruhnya sebelum mengucapkan salam atasnya.”
Akhi fillah, Manakala telah ditutp lembaran hidup yang fana! keluarlah arwah seorang mukmin yang suci dan diangkatlah ia menghadap Allah Ta’ala..para malaikat muqarrabun mengelilinginya! lalu dibukalah pintu-pintu langit baginya! penduduk langitpun menyampaikan kabar gembira kepadanya dan menyanjungnya! mereka rasakan bau wangi darinya sewangi amal perbuatannya!
Demi Allah! betapa gembiranya ia saat itu...seakan-akan ia berkata “selamat tinggal wahai negeri yang sial dan penuh derita...selamat tinggal wahai tempat kesusahan dan kepayahan..selamat tinggal wahai negeri yang hina..negeri yang memuakkan dan membinasakan..
Saudaraku..... semoga Allah menyelamatkan aku dan juga anda dari segala keburukan, inilah perjalanan arwah yang suci! akan aku beritakan kepada anda bagaimana ia naik ke atas langit sebagaimana yang telah diberitakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tatkala bersabda :
إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مَلَائِكَةٌ مِنَ السَّمَاءِ بِيضُ الْوُجُوهِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الشَّمْسُ مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ وَحَنُوطٌ مِنْ حَنُوطِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ عَلَيْهِ السَّلَام حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ قَالَ فَتَخْرُجُ تَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاءِ فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَأْخُذُوهَا فَيَجْعَلُوهَا فِي ذَلِكَ الْكَفَنِ وَفِي ذَلِكَ الْحَنُوطِ وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَطْيَبِ نَفْحَةِ مِسْكٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ قَالَ فَيَصْعَدُونَ بِهَا فَلَا يَمُرُّونَ يَعْنِي بِهَا عَلَى مَلَإٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِلَّا قَالُوا مَا هَذَا الرُّوحُ الطَّيِّبُ فَيَقُولُونَ فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ بِأَحْسَنِ أَسْمَائِهِ الَّتِي كَانُوا يُسَمُّونَهُ بِهَا فِي الدُّنْيَا حَتَّى يَنْتَهُوا بِهَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَسْتَفْتِحُونَ لَهُ فَيُفْتَحُ لَهُمْ فَيُشَيِّعُهُ مِنْ كُلِّ سَمَاءٍ مُقَرَّبُوهَا إِلَى السَّمَاءِ الَّتِي تَلِيهَا حَتَّى يُنْتَهَى بِهِ إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ اكْتُبُوا كِتَابَ عَبْدِي فِي عِلِّيِّينَ وَأَعِيدُوهُ إِلَى الْأَرْضِ فَإِنِّي مِنْهَا خَلَقْتُهُمْ وَفِيهَا أُعِيدُهُمْ وَمِنْهَا أُخْرِجُهُمْ تَارَةً أُخْرَى

“Sesungguhnya seorang hamba mukmin ketika telah terputus dengan kehidupan dunia dan menghadap akherat, maka turunlah kepadanya malaikat dari langit yang berwajah putih berseri laksana matahari! mereka membawa kafan diantara kafan dari jannah dan wewangian diantara wewangian jannah! lalu mereka duduk di sisinya sejauh mata memandang. Lalu datanglah malaikat maut -alaihis salam- hingga dia duduk di atas kepalanya dan berkata “wahai jiwa yang suci keluarlah menuju pengampunan dan keridhaan Allah.” Maka keluarlah ia bagaikan air mengalir dari geriba, lalu malaikatpun mengambilnya. Ketika ia telah mengambilnya maka tidak pernah ia lepaskan dari tangannya walau sekejappun hingga para malaikat (yang dari langit) mengambilnya dan meletakkan ruh itu di atas kain kafan dan wewangian tersebut. Maka keluarlah darinya semerbak bau harum yang lebih wangi dari misk yang didapat di muka bumi.” Beliau melanjutkan, “Maka merekapun membawanya naik ke langit, sehingga tiada mereka melwati malaikat penduduk langit melainkan mereka akan berkata “betapa wanginya ruh ini!” Lalu mereka berkata,”Ini adalah ruh si fulan bin fulan” mereka sebutkan namanya yang paling bagus tatkala dia di dunia, samapi akhirnya mereka sampai ke langit dunia dan mereka meminta agar pintu langit dibuka. lalu terbukalah pintu bagi mereka. Mereka ikut mengantarkannya dari satu langit menuju ke langit berikutnya hingga sampai langit yang ke tujuh. Lalu Allah Azza Wajalla berfirman, “Tulislah ketetapan bagi hambaku ini bahwa ia berada di “illiyyin lalu kembalikanlah ia ke bumi(tanah) karena sesungguhnya Aku menciptakan mereka darinya, dan darinya pula Aku akan mengeluarkan mereka pada kesempatan yang lain.” (HR Ahmad)
Wahai saudaraku, tidakkah anda perhatikan, betapa senangnya jiwa yang suci tatkala bertemu dengan Rabbnya Ta’ala?! Duhai alangkah beruntunganya arwah yang telah berinteraksi dengan Allah di dunia dengan tulus dan ikhlas, lalu ia mendapatkan balasan sebagai shiddiqiin...dalam hal yang demikian ini hendaknya orang-orang segera beramal..
Kemudian wahai saudaraku, telah sampaikah kepada anda bagaimanakah berita arwah yang membangkang Penciptanya ? dia enggan beribadah kepada Allah Ta’ala? Inilah beritanya:
Sungguh Allah Ta’ala akan membalasnya sebagaimana membalas musuh-musuhNya. Disediakan bagi mereka adzab dan siksa yang tak pernah terlupakan oleh hati. Inilah kabar yang dibawa oleh Nabi kita yang jujur Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tatkala beliau menceritakan kepada kita berita tentang jiwa yang rusak, yang tidak mau menunaikan tugas ibadahnya kepada Allah Ta’ala. Beliau bersabda :

وَإِنَّ الْعَبْدَ الْكَافِرَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مِنَ السَّمَاءِ مَلَائِكَةٌ سُودُ الْوُجُوهِ مَعَهُمُ الْمُسُوحُ فَيَجْلِسُونَ مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ اخْرُجِي إِلَى سَخَطٍ مِنَ اللَّهِ وَغَضَبٍ قَالَ فَتُفَرَّقُ فِي جَسَدِهِ فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السَّفُّودُ مِنَ الصُّوفِ الْمَبْلُولِ فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَجْعَلُوهَا فِي تِلْكَ الْمُسُوحِ وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَنْتَنِ رِيحِ جِيفَةٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ فَيَصْعَدُونَ بِهَا فَلَا يَمُرُّونَ بِهَا عَلَى مَلَإٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِلَّا قَالُوا مَا هَذَا الرُّوحُ الْخَبِيثُ فَيَقُولُونَ فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ بِأَقْبَحِ أَسْمَائِهِ الَّتِي كَانَ يُسَمَّى بِهَا فِي الدُّنْيَا حَتَّى يُنْتَهَى بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيُسْتَفْتَحُ لَهُ فَلَا يُفْتَحُ لَهُ ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ( لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ) فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ اكْتُبُوا كِتَابَهُ فِي سِجِّينٍ فِي الْأَرْضِ السُّفْلَى فَتُطْرَحُ رُوحُهُ طَرْحًا ثُمَّ قَرَأَ ( وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ )

“Sesungguhnya seorang hamba kafir, apabila meningalkan dunia dan menghadap akherat, maka turunlah malaikat langit yang berwajah hitam yang membawa minyak, kemudian mereka duduk sejauh mata memandang. Lalu datanglah malaikat maut hingga dia duduk di sisinya dan berkata, “Wahai jiwa yang busuk! keluarlah engkau menuju kemarahan dan kemurkaan Allah.” Beliau melanjutkan, “Maka berpisahlah ruh dari jasadnya, dia mencabutnya sebagaimana mencabut besi pemanggang daging dari bulu domba yang basah. Kemudian dia mengambil ruh itu. Maka ketika dia telah mengambilnya tidak dia lepaskan dari tangannya walaupun sekejap. Hingga para malaikat (yang dari langit) meletakkannya di tempat yang telah mereka sediakan. Lalu keluarlah darinya aroma bangkai yang paling busuk yang didapatkan di dunia. Kemudian mereka membawanya naik ke atas langit. Tiada mereka melewati para malaikat penduduk langit melainkan mereka berkata, “ruh siapa yang berbau busuk ini?” Maka mereka menjawab, “ini adalah fulan bin fulan” mereka sebut nama panggilannya yang paling buruk di dunia, hingga sampailah mereka ke langit dunia. Lalu mereka meminta agar pintu dibukakan untuk ruh itu, namun tidak dibukakan, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca ayat: ”...sekali-kali tidak dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lobang jarum.” (QS Al A’raf 40)
Allah Azza Wajalla berfirman,”Tulislah ketetapan bagi hambaKu ini bahwa dia di neraka Sijjiin di bumi yang paling bawah, lalu ruhnya dibuang begitu saja. Kemudian nabi membaca firman Allah : “Barangsiapamempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS Al Hajj 31) Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad.
Saudaraku..... tidakkah anda perhatikan, bagaimana perjalanan ruh orang yang suu’ul khathimah? semoga Allah melindungi aku dan juga anda dari suu’ul khathimah. Akhi..alangkah celakanya ruh manusia yang ditampik oleh pintu langit..alangkah binasa ruh yang diserahkan kepada malaikat adzab!
وَلَوْتَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلاَئِكَةُ بَاسِطُوا أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنتُمْ عَنْ ءَايَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ {93}

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dala tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata) :"Keluarkanlah nyawamu". Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri ayat-ayat-Nya.” (QS Al An’am 93)
Akhi muslim, hanya ada dua tempat setelah kematian, sama sekali tidak ada tempat yang ketiga. Apakah malaikat Allah yang mendatangimu dengan membawa berita gembira untukmu berupa keridhaan Allah Ta’ala, sehingga hari itu engkau betul-betul bergembira dan bahagia..?ataukah, malaikat yang hitam wajahnya yang datang kepadamu membawa berita buruk berupa kemurkaan Allah dan suu’ul khathimah? alangkah celakanya engkau..alangkah rugiya engkau..!
Saudaraku..... mengapakah kita tidak meneteskan air mata? mengapakah tidak sesak dada kita karenaya? mengapakah tidak terasa sakit sela-sela rusuk kita karena mengingatnya?
Benar...hati kita telah menjadi keras, karat dosa telah menutupinya
Kita mengantarkan mayit...sedangkan hati kita menjadi mayit
Kita mengantarkan mayit...namun tidak mengambil pelajaran dan peringatan
Kita mengantarkan mayit...namun tidak bertanya,”Di manakah kira-kira tempat kembalinya, neraka ataukah jannah?
Kita mengantarkan mayit...namun hati kita mati sebelum jasadnya

Akhi fillah, secawan kematian adalah ketetapan Yang Maha Hidup lagi tidak akan mati, Tabaaraka wa Ta’ala...sadarkah anda bahwa suatu hari engkaupun akan meneguk cawan kematian itu?
Saudaraku..... kematian adalah pemutus segala kelezatan, Nabi saw menyerumu untuk memperbanyak mengingatnya, sebagaimana sabda beliau saw:
أكثروا ذكر هاذم الذات
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan!” (HR Tirmidzi, Nasa’i dan Nasa’i menshahihkannya :1823)
Tahukah anda, apa makna pemutus segala kelezatan? maknanya adalah penghalangnya dan menghinlangkannya. Benar...kematian menghilangkan kenikamatan..memutus kelezata, namun adakah yang mau mengambil pelajaran?
Saudaraku..... mengingat mati mendorong untuk tulus menerima Allah Ta’ala dan mengikis pengaruh dunia di dalam hati. Ad Daqaaq berkata, “Barangsiapa yang memperbanyak mengingat matai, akan dimuliakan dengan tiga perkara, yakni bersegera untuk bertaubat, qana’ahnya hati, dan rajin dalam beribadah. Sedangkan barangsiapa yang melalaikan kematian niscaya akan ditimpa tiga musibah, yakni menunda taubat, tidak puas dengan apa yang telah didapat dan malas dalam beribadah.”
Saudaraku..... tidakkah anda bergabung ke dalam rombongannya orang-orang yang memiliki bashirah? yang mana kematian adalah syi’ar mereka...muhasabah adalah kebiasaannya..selamat wahai saudaraku bagi yang bergabung bersama mereka! itulah mereka berjalan sedangkan jiwanya penuh dengan nasehat dan peringatan..
Inilah Sufyan Ats Tsauri Rahimahullah, ketika beliau mengingat mati...ketika ditanya tentang suatu hal beliau berkata,”aku tidak tahu! aku tidak tahu! At Taimi Rahimahullah berkata,”Dua perkara yang menghalangiku merasakan lezatnya dunia, mengingat mati dan tatkala berdiri di hadapan Allah Ta’ala
Muhammad bin Waasi’ Rahimahullah setiap kali hendak tidur, beliau berkata kepada keluarganya sebelum berbaring,”selamat tinggal wahai keluargaku, bisa jadi tidurku nii adalah yang terakhir kalinya dan aku tidak bisa bangun lagi!” Kalimat ini menjadi kebiasaan beliau setiap kali hendak tidur.
Saudaraku..... begitulah keadan orang-orang shalih...mereka sadar bahwa suatu hari akan berpisah dengan dunia yang penuh tipu daya ini! selalu ingat bahwa mereka akan segera berangkat...dan mereka persiapkan bekal untuk menempuh perjalanan panjang.
Saudaraku..... wahai yang mengerti tipu daya! kelalaian telah memenuhi hati, hingga tak kau sisakan satu tempatpun untuk mengingat hari yang menakutkan itu.
Saudaraku..... inilah seruanku bagi mereka yang mau mendengar :
Saudaraku, mengapakah engkau lalai padahal telah diberi peringatan?
Mengapakah engkau bimbang padahal telah menyaksikan?
Mengapakan engkau alpha padahal engkau hadir?
Mengapa engkau mabuk padahal tubuhmu sehat?
Mengapa engkau diam padahal engkau sedang mengejar?
Mengapakan engkau berhenti padahal engkau dalam perjalanan?
Adapun sekarang, saatnya yang tidur lelap untuk bangun! saatnya yang lalai untuk segera sadar! ketahuilah bahwa manusia di dunia ini seluruhnya dalam keadaan safar! Maka beramallah dengan apa yang dapat menyelamatkanmu di hari kebangkitan dari neraka saqar.
Inilah saatnya untuk berjalan, maka hendaknya engkau waspada
Tiada yang lebih berharga dari waspada
Jangan terpedaya hari ini atau besoknya
Seringkali orang yang lalai dalam bahaya
Saudaraku..... bukankah mengerankan jika setiap hari kita mengantarkan mayit, namun tidak tergerak hati kita karenanya? tidak ada rasa takut atau khawatir? Bahkan seakan kematian tidak menimpa melainkan mayit itu saja! Saudaraku..... betapa buruknya kelalaian ini! betapa busuk dan menjijikkannya keteledoran ini! itulah yang membutakan hati, tiada yang lebih buruk darihati yang buta:

فَإِنَّهَا لاَتَعْمَى اْلأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ {46}
“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS Al Hajj 46)
Ar Rabi’ bin Barrah berkata, “Aku heran dengan manusia, bagaimana mereka lupakan kejadian yang pasti terjadi? mereka lihat dengan matanya, mereka menyaksikannya, dan hatipun meyakininya, mengimaninya, dan membenarkan apa yang dikabarkan oleh para Rasul, namun kemudian mereka lalai dan mabuk dengan senda gurau dan permainan.”
Saudaraku..... mengingat mati adalah obat paling mujarab bagi penyakit lalai! Duhai alangkah ironis jika hal itu tak mampu mengobati sakitmu, lantas obat apalagi yang dapat menyembuhkanmu? atau jampi manakah lagi yang akan menyelamatkanmu!? Saudaraku..... sungguh kelalaian adalah seburuk-buruk penutup! teledor adalah seburuk-buruk busana..barangsiapa yang mengenakannya berkumpullah kepadanya macam-macam penyakit.
Saudaraku..... jika urusan dunia menyibukkanmu, maka ingatlah kematian...sesungguhnya engkau tengah dalam perjalanan...dan sekali-kali tidak akan kau dapatkan cambuk yang lebih ampuh bagi nafsu dari mengingat mati! ia adalah cambuk yang melindungi hati orang-orang shalih...yang dapat membiasakan mereka untuk menurut...tunduk berjalan di atas ketaatan! dan...membuat mereka takut tatakala dekat dengan kemaksiatan dan dosa! maka renungkanlah wahai orang yang melalaikan kematian dan sakaratnya, kesulitan dan juga kepahitan rasanya! cukuplah kematian membuat hati bersedih, air mata menetes, menghancurkan kelezatan dan memutuskan angan-angan.
Adakah engkau telah merenung wahai anak Adam? hari di mana engkau akan mati dan akan berpindah dari tempatmu hari ini? dan akan berpindah dari kelapangan menuju tempat yang teramat sempit? teman-teman setiamu akan mengkhianatimu! saudara dan teman-temanmu akan meninggalkanmu! engkau akan diangkat dari kasur dan selimutmu menuju liang lahat! selimutmu yang tadinya halus dan lembut akan ditukar dengan tanah dan lumpur! wahai yang menumpuk harta dan berlomba meninggikan bangunan! demi Allah, tiada harta yang engkau miliki nantinya selain kafan! bahkan, demi Allah, itupun adalah jatah bagi kuburan dan akan musnah, sedangkan jasadmu adalah bagian bagi bumi dan ulat tanah! kemanakah larinya harta yang dahulu engkau kumpulkan? dapatkah ia menyelamatkan dirimu dari keadaan ini? sekali-kali tidak...dia tinggalkan dirimu dan mengabdi kepada orang yang tak mau berterima kasih kepadamu! kemudian akan engkau laporkan dosa-dosamu kepada yang tidak akan memberikan udzur kepadamu!! (Imam Al Qurthubi).
Saudaraku..... sesungguhnya panjang angan-angan adalah biang semua penderitaan ini! setiap kali waktu pagi tiba, ketika manusia bangun dari tidurnya, dan mengusap matanya, ketika itu pula mereka terikat oleh angan-angan!
Ya Allah... sungguh kita tidur bersama angan-angan, berselimut angan-angan dan berbantalkan angan-angan! padahal, jikalau ada yang berusia tua, bukan berarti yang lebih muda darinya terhalang bagi datangnya ajal! mautpun tak mau kompromi bagi mereka yang masih berusia muda!

Adakah engkau ingin kekal dan tiada musnah?
Demi Allah kematian telah mengirimkan utusannya
Seakan kuingin menyumbatmu dengan tanah
Tiadalah suatu apapun yang kau wariskan bagi manusia

Saudaraku..... mengingat mati adalah obat mujarab bagi penyakit panjang angan-angan. Telah datang seorang wanita kepada ibunda ummul mukminin ‘Aisyah Radhiayhu ‘Anha mengadukan akan kerasnya hati yang ia rasakan. Maka ibunda ‘Aisyah Radhiyallau ‘Anha berkata, Perbanyaklah mengingat mati niscaya hilang penyakit di hatimu!” Akhirnya wanita itupun mengerjakan wejangan itu dan hilnglah penyakit di hatinya, lalu ia datangi kepada ibunda ‘Aisyah untuk mengucapkan terima kasih kepadanya.
Saudaraku..... tiada seorangpun yang panjang angan-angannya dan gandrung dengan dunia yang fana, melainkan dia akan menghabiskan hari-harinya di dunia tidak untuk ketaatan kepada Allah..dia sia-siakan waktu dan umurnya, terbuai dengan mimpi dan angan-angan.
Hasan Al Bashri berkata Rahimahullah, “Tiada seorangpun yang panjang angan-angannya melainkan pastilah buruk amal-amalnya.”
Saudaraku..... marilah kita bergabung dengan para salaf yang hendak mengajari kita tentang apakah panjang angan-angan itu?!
Ketika bertemu antara seorang yang memiliki hati yang mukmin yang tengah menunaikan shalat, dengan teladan bagi orang-orang yang zuhud bernama Ma’ruf Al Karkhi Rahimahullah. Tatkala itu Ma’ruf iqomah untuk shalat lalu berkata kepada Muhammad bin Abi Taubah, “silahkan anda maju (untuk menjadi imam-pent). Maka Muhammad menjawab: “sesungguhnya, jika aku shalat bersama kalian kali ini, nantinya aku tidak bisa shalat bersama kalian lagi (barangkali karena ketika itu beliau dalam keadaan safar, sehingga tidak mau menjadi Imam, wallahu a’lam-pent) mendengar jawaban itu, ma’ruf berkata, “Apakah terlintas di hatimu bahwa anda masih bisa menunaikan shakat setelah shalat kali ini? na’udzu billah, kami berlindung diri kepada Allah dari panjangnya angan-angan yang menghalangi amal kebaikan.”
Saudaraku..... telah berapa lama dunia ini berlalu? berapa banyak sudah generasi yang telah binasa?
Saudaraku..... berapa hari yang telah engkau lalui? berapa bulan yang telah engkau lampaui?berapa tahun sudah engkau jalani hidup ini?
Saudaraku..... berapa banyak saudara dan handai taulanmu yang telah mati dan berada di liang lahat?
Saudaraku..... berapa kali engkau mengingat mati selama sekian hari, sekian bulan dan sekian tahun yang telah engkau lalui?
Saudaraku..... berapa kali pernah terlintas di hatimu bahwa engkau akan mati hari ini atau besok?
Saudaraku..... berapa waktu yang telah engkau buang sedangkan engkau masih saja berangan-angan? Namun sudahkah tercapai angan-anganmu? Jika memang sudah, sangupkah hal itu menghentikan angan-anganmu yang lain?
Saudaraku..... ingatlah..kemudian ingatlah...hendaknya engkau camkan nasehat ini, “Seorang hamba pastilah akan bertemu dengan Rabbnya dan rumah tempat tinggalnya, maka semestinya dia mencari keridhaan Rabbnya sebelum menjumpainya, dan mengisi rumahnya sebelum menempatinya” (Ibnul Qayyim)
Saudaraku..... dialah kematian! tamu yang tiada diharapkan kehadirannya...peristiwa yang tak disukai terjadinya...teman dekat yang tidak dicari...pemutus segala kelezatan...merusak perkumpulan..dan menghancurkan angan-angan..
Saudaraku..... hendaknya engkau waspada! adakah yang lebih berharga dari waspada? tiada yang tersisa selain amal shalih, itulah bekal yang paling utama..sebaik-baik teman di hari pembalasan..dan tamanmu di hari kematian...kawan setiamu disaat manusia meninggalkanmu di kubur.. “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”(QS Ali Imran 102)

0 komentar: